Minggu, 11 Maret 2012

Materi : Pola Asuh Patogentik

Model Stes

Bila dilihat dari gambar model/bagan diatas dalam pembentukan stres. keluarga juga memberikan kontribusi didalamnya. dalam pertemuan kuliah abnormal faktor keluarga dibahas secara spesifik berupa "Pola Asuh Patogenik". Berikut ini merupakan pola asuh yang tergolong patogenik :
  1. Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
  2. Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk saja”
  3. Penolakan (rejected child), seperti pada kasus pemerkosaan.
  4. Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
  5. Disiplin yang terlalu keras
  6. Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan, orang tua menerapkan peraturan yang bersifat tidak menetap dan dapat berubah-ubah sehingga membuat anak menjadi bingung.
  7. Perselisihan antara ayah-ibu yang diperlihatkan kepada anak.
  8. Perceraian orang tua
  9. Persaingan yang kurang sehat diantara para saudaranya
  10. Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
  11. Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
  12. Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik)
Pola asuh diatas dapat menyebabkan gangguan-gangguan psikologis pada anak.





Analisis Kasus: Menentukan Abnormal atau Normal

Pada artikel sebelumnya, yaitu kasus ratna yang ternyata tidak tergolong abnormal karena tergolong kedalam indra keenam, dan dalam pandangan masyarakat Indonesia termasuk kedalam normal. Sama seperti kasus ratna, kasus ini bertujuan untuk menentukan termasuk kedalam normal atau abnormal.
Kasus :
Ibu H merasa bahwa sejak ia hamil anak ketiga, ia dapat merasakan apa yang akan terjadi di masa depan. Misalnya hanya dengan melihat wajah orang, H tahu orang itu baik atau jahat. Keadaan ini kadang-kadang mengganggu ketenangannya. Ia juga mengaku bahwa kemampuan seperti itu juga dimiliki ibunya sebelum meninggal. Menurut cerita keluarga, ibunya masih memiliki hubungan dengan kiai sakti dari Cirebon.

Hasil Analisa :
1. Disfungsi Psikologis
  • Afektif: pada aspek ini ibu H tidak mengalami gangguan, kalaupun mengalami gangguan terhadap ketenangan tetapi hal itu tidak terlalu sering.
  • Kognitif: Pada aspek ini ibu H mengalami gangguan, kerena dapat mengkategorikan/mengklasifikasikan seseorang baik atau jahat dari wajah seseorang.
  • Psikomotor: aspek ini, ibu H tidak mengalami gangguan.
2. Distres:
  • Dalam kasus diatas, tidak terlihat ibu H merusak atau menyakiti dirinya secara fisik dan kalaupun secara psikis berupa gangguan ketenangan tidak terlalu sering dialami.
3. Respon Apikal
  • Secara pandangan masyarakat lokal, kasus ini termasuk kedalam normal dimana tergolong kedalam indra keenam yang dapat diwariskan atau diturunkan dari orang tua. sehingga dalam aspek respon apikal tidak tergolong abnormal.


Sehingga berdasarkan aspek-aspek penentuan abnormal dan normal dari DSM-IV, maka Ibu H termasuk kedalam Normal.

Catatan: data yang dipaparkan dalam kasus ibu H sangat terbatas sehingga bisa saja indikasi gangguan atau tidak dapat mengalami perubahan apabila data yang diperoleh lebih lengkap. Analsa yang dipaparkan tersebut berdasarkan data yang dipaparkan dan pemahaman saya dari proses pembelajaran.

Minggu, 04 Maret 2012

Analisis Jurnal "Obsessive-compulsive disorder (OCD)"

Judul Jurnal : A Mindfulness-Based Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder
Oleh : NIRBHAY N. SINGH (ONE Research Institute), ROBERT G.WAHLER (University of Tennessee, Knoxville), ALAN S.W. WINTON (Massey University), ANGELA D. ADKINS (Western State Hospital), THE MINDFULNESS RESEARCH GROUP


Abstrak :
Di antara mereka yang mengalami gangguan Obsesif Kompulsif (OCD), sebagian besar tidak dapat merespon dengan baik terhadap pengobatan standar dari dua percobaan serotonin reuptake inhibitors dan cognitive-behavioral therapy. selain menjadi sulit disembuhkan dengan pengobatan saat ini, orang-orang ini sering memiliki gangguan penyerta yang berkontribusi terhadap kualitas hidup. Penulis menyajikan kasus,seorang individu yang dibantu untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan menerima OCD-nya sebagai kekuatan dan meningkatkan kesadaranya. sehingga ia mampu menyertakan OCD-nya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dia berhasil mengatasi melemahkan OCD-nya dan itu diambil dari semua pengobatan yang berlangsung selama waktu enam bulan intervensi. Tiga tahun pasca intervensi, tindak lanjut menunjukkan bahwa dia menyesuaikan diri dengan baik, memiliki penuh dan gaya hidup sehat dan meskipun pikiran obsesit tetap ada, mereka tidak mengontrol perilakunya.

Kata Kunci : Kesadaran berasarkan pengobatan, Perilaku Obsesif-kompulsif, Bukan Pengobatan Farmakologis

Kasus :
Janice mengeluh berlebihan dalam membersihkan dan mencuci kamarnya. Dia memeberitahukan telah begitu lelah dikarenakan obsesinya tentang kuman dan keharusan untuk membershikan atau mencuci segala sesuatu yang di kamarnya. dia hampir tidak berfungsi dalam kehidupan segari-hari. dia telah kehilangan pekerjaanya karena, dia tidak dapat tepat waktu. biasanya pulang lebih awal untuk membersihkan kamarnya, sering meninggalkan saat makan siang dan tidak kembali bekerja sampai hari berikutnya. dia dipecat dari pekerjaan kesekertarian karena perilaku OCD-nya. saat ini diya pengangguran, apalagi diya tidak dapat bekerja di negara itu saat ini. Janice juga tertekan.

Catatan Kasus :
Catatan kasus menunjukkan bahwa bahkan sebgai seorang anak kecil, janice khawatir tentang kebersihan, suatu sifat yang dia pikir dia peroleh dari ibunya. Adiknya meninggal ketia diya berumur 10 tahun. dia percaya bahwa diya bertanggung jawab terhadap kematian adiknya. tampaknya ia bermain dengan adiknya dan membiarkan adiknya menghisap jarinya untuk menghentikan adiknya menangis. namun sebelumnya diya telah bermain di halaman dan tidak mencuci tanganya sebelum diya memberikan jarinya kepada adiknya. secara bertahap, diya menjadi obsesiv dengan kuman sebagai pembunuh dan mulai membersihkan dan mencuci semua yang akan kontak langsung dengan diya. hal ini berlanjut selama beberapa tahun sampai kecemasannya tentang kuman dan dia memberiskan dan secara berkala membersihkan dan mencucui mulai mengusai dirinya.

Kriteria :
  •     Abnormal atau Tidak (DSM-IV) :
             1. Disfungsi Psikologis
             2. Impairement (Hendayan)
             3. Respon Atipikal
  • PPGDJ-III

          Menurut panduan PPDGJ-III gangguan obsesif kompulsif harus mencangkup hal-hal berikut :

          ü Harus disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri sendiri.
          ü Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan meskipun ada hal lain yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
         ü Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut diatas bukan merupakan hal yang memberi kepuasaan  atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau kecemasan, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud diatas)
         ü Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).
  • DSM IV-TR
          Kriteria DSM IV-TR untuk gangguan Obsesif Kompulsif ( OCD ) :
          • Obsesi, pikiran yang berulang dan menetap, impuls-impuls atau dorongan yang menyebabkan kecemasan.
          • Kompulsi, perilaku dan tindakan mental repetitive yang dilakukan seseorang untuk menghilangkan ketegangan.

Diagnosa Berdasarkan Kasus :

a. Menentukan Abnormal atau Tidak
berdasarkan kriteria dan informasi yang dikumpulkan, sebagai berikut :
1. Disfungsi Psikologis, tidak dapat menjalankan peran (Kognitif, Afektif, Psikomotrik) Secara kognitif, jenice merasa khawatir apabila terdapat kuman yang dapat membunuhnya dari benda-benda di sekitar kamarnya apabila tidak di cuci dan dibersihkan. secara afektif, perasaan bersalah yang ditimbulkan karena merasa kematian adiknya karena kuman yang terdapat pada jari tanganya. sedangkan pada psikomotorik, jenice akan selalu berusaha membersihkan dan mencuci benda-benda yang berada dikamarnya, hingga merasa sudah tidak ada kuman lagi.
2. Impairement (Hendayan), yaitu individu yang abnormal akan merusak dirinya baik secara fisik dan psikologis. secara fisik, jenice akan sering menghabiskan waktunya untuk membersihkan dan mencucui barang-barang di kamarnya berkali-kali yang akan membuat dirinya menjadi lelah. sedangkan secara psikologis, rasa bersalah yang ditimbulkan sehingga memunculkan kekhawatiran, selain itu jenice juga merasa tertekan dengan perilakunya karena tidak dapat beraktivitas dengan normal.
3. Respon Atipikal, respon yang tidak sesuai dengan sosial-kultur. rasa kekhawatiran yang dimiliki jenice sudah sangat berbeda dari orang-orang pada umumnya karena biasanya seseorang akan membersihkan kamarnya secara keseluruhan tidak hanya lantainya hanya satu minggu sekali bahkan lebih dan tidak hanya mengabiskan waktunya hanya untuk membersihkan kamar.

Maka, dikarenakan ketiga kriteria abnormal terpenuhi, jadi Jenice termasuk kedalam perilaku Abonormal.
        
b. Jenis Gangguan.
Secara ringkas, Jenice mengalami kekhawatiran dan impulsnya yang berulang-ulang, perilaku yang dilakukan tidak berdasarkan untuk mencari kepuasan dan kesenangan, Kompulsi, tidak dapat melawan dan impuls berasal dari diri sendiri. 
sehingga gejala-gejala tersebut bila dimasukkan kedalam PPGDJ dan DSM-IV termasuk kedalam gangguan Obsesif Kompulsif ( OCD )


Sumber :
- 
Jurnal : A Mindfulness-Based Treatment of Obsessive-Compulsive Disorder
web: http://psikologiabnormal.wikispaces.com/Obsessive-Compulsive+Disorder

Minggu, 26 Februari 2012

Analisa Kasus Very Idham Henyansyah (Ryan-Jombang)

Pada tugas analisa kasus ini, saya memilih kasus 3 yaitu Kasus Ryan Jombang, "Homoseksual" dan "Pembunuh", saya memilih kasus ini dikarenakan data-data yang dapat dikumpulkan akan lebih lengkap dan akan lebih sesuai untuk dianalisa.

Pada tugas kali ini, yang di perintahkan adalah :
·         Investigasi kasus secara detail
·         Memberikan analisa secara pribadi dengan menggunakan kriteria DSM IV, apakah pelaku dalam kasus ini termasuk kedalam abnormal atau tidak

Informasi dan data, secara lengkap semua informasi dapat diakses pada : http://id.wikipedia.org/wiki/Very_Idham_Henyansyah

Untuk berita-berita penunjang :
http://sighuraba.wordpress.com/2008/08/01/‘ryan-abnormal…’/
Kriteria DSM IV :
1.      Disfungsi Psikologis
2.      Impairement (Hendayan)
3.      Respon Atipikal

Analisa Kasus:
Berikut ini akan diuraikan secara satu persatu berdasarkan criteria tersebut. Yaitu :
a.       kriteria Disfuungsi Psikologis
Dalam kriterika disfungsi psikologis, harus dilihat dari tiga aspek meliputi (kognitif, afektif dan konatif/psikomotorik).
-          Pada aspek kognitif, dalam melakukan setiap aksinya ryan melakukanya dalam keadaan sadar dan menyadari konsekuensi yang akan dihadapinya. ( 11 korban ryan). Berdasarkan data yang ditemukan, dalam pikiran dan perilaku yang dilakukan riyan tidak dapat diprediksikan dan dikontrol. Dalam proses mutilasi yang dilakukan pada Heri santoso, hal ini juga menunjukkan terdapatnya gangguan kognitif.
-          Pada aspek afektif, berdasarkan cerita yang bersumber dari keluarganya terutama orang tuanya, Ryan sering sekali tidak mampu mengendalikan emosinya. Sejak masa SMP, ryan juga senang dan merasa nyaman apabila berteman dengan perempuan. Selain itu perasaan cemburu yang berlebihan dan dendam dengan ditunjukkanya pada kasus-kasus pembunuhan.
-          Pada aspek konatif atau psikomotorik, data yang diperoleh dari kedua orang tuanya, ryan pernah melempar Bapaknya dengan sandal, juga pernah menamparnya. Pernah pula melempar ibunya dengan gelas, membuang nasi yang baru dimasak ibunya, karena belum tersedia lauk ketika ia hendak makan. Pernah mengejar-ngejar ibunya dengan membawa pisau (senjata tajam). Selain itu sejak masa SMP, ryan juga sudah lebih menyukai kegiatan-kegiatan perempuan dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan laki-laki. Tindakan pembunuhan dan memutilasi para korbanya.


  b. Kriteria Impairement (Handayan), bila dilihat dari kasus riyan proses impairement secara fisik pada diri ryan tidak terjadi,tetapi secara psikologis ryan mengalami masalah. Dimana hal ini di tunjukkan pada sikap kekhawatiran yang berlebihan (kecenderungan untuk paranoid) terhadap pasanganya untuk melakukan perselingkuhan. Dalam proses ppembunuhan, ryan juga dalam keadaan sadar hal ini berarti ryan telah menekan dan menghilangkan rasa bersalah yang ada dalam dirinya. Sehingga secara tidak  langsung ryan telah melakukan perusakan dirinya pada aspek psikologis.


c.    Respon Atipikal, pada criteria ini sangat jelas sekali riyan masuk kedalam criteria ini karena pembuhan dan mutilasi sudah melanggar norma, hokum dan aturan yang berlaku di masyarakat. Selain itu walaupun homoseksual sudah tidak termasuk gangguan, tetapi didalam masyarakat Indonesia belum dapat menerima seutuhnya perilaku homoseksual.

Sehingga berdasarkan ketiga kriteria tersebut, maka ryan termasuk kedalam abnormal.



DISKUSI PERTEMUAN KE-2

COMMING SOON

Minggu, 19 Februari 2012

Studi Kasus (Kasus D)

Dalam hal ini, kasus yang diberikan hanya untuk di analisa apakah tergolong abnormal atau tidak berdasarkan kriterita-ktiteria abnomal.

KASUS :
Ratna berusia 10 tahun seringkali mengeluhkan akhir-akhir ini melihat seorang anak perempuan kecil yang mengikutinya ke mana saja ia pergi. Ratna bahkan seringkali terlihat sedang bercakap-cakap degan anak kecil tersebut. Anak kecil itu seringkali memberitahu Ratna akan situasi-situasi bahaya yang akan dihadapi di depannya. Orangtua Ratna merasa takut dengan perilaku anaknya terseb. Orangtua Ratna sangat berharap perilaku anaknya akan berubah. Keluarga pernah membawa Ratna ke seorang Kyai dan beliau mengatakan bahwa Ratna memang memiliki kemampuan ‘indera keenam’ sehingga dapat melakukan interaksi dengan makhluk gaib.

HASIL ANALISA :
Pada artikel sebelumnya telah di utarakan kriteria-kriteria dalam menentukan perilaku seseorang dapat dikatakan abnormal atau tidak. maka dapat disimpulkan secara umum bahwa ratna tergolong memiliki tingkah laku abnormal. hal ini dilihat dari umur ratna yang telah menginjak umur 10 tahun, pada teori perkembangan yang dikemukakan oleh jean piaget, seseorang yang berumur 10 tahun sudah tergolong kedalam tahap perkembangan kognitif operasional konkret. pada tahap ini seorang sudah mampu secara logika. sehingga secara umum (tidak dapat distatistikan, karena tidak ada data relevan), sudah dapat membedakan teman yang sesungguhnya dan tidak. maka secara konsep sosial-kultur dan secara statistikpun sudah diluar dari kurva normal, maka perilaku yang dilakukan oleh ratna tidak pada umumnya. selain itu, dalam ciri-ciri perilaku abnormal, hal ini sudah termasuk kedalam ciri konsep patologis dimana seseorang sudah mengalami ilusi. bila kita melihat lebih dalam dengan konsep distress, perilaku yang dilakukan oleh ratna sudah mengganggu dirinya karena ratna juga sering mengeluh diikuti kemana saja dengan gadis tersebut dan orang-orang disekitarnya terutama orang tua juga merasa terganggu dan khawatir terhadap perilaku yang dilakukan oleh ratna. akan tetapi, apabila kita melihat kultur yang lebih luas dan kemungkinan yang lain seperti kemampuan indra keenam, maka kuranglah memadai karena apabila seseorang memiliki kemampuan indra keenam seperti melihat makhluk lain tidak hanyalah satu, dan selain itu dapat juga diidentifikasi sejak dini dimana prosesnya berlangsung sejak kecil. sehingga secara garis besar, perilaku ratna sudah tergolong kedalam perilaku abnormal.

Psikologi Abnormal
Psikologi Abnormal merupakan salah satu cabang dari psikologi yang berhubungan dengan psikopatologi dan perilaku abnormal.  Secara umum abnormal itu sendiri merupakan perilaku yang menyimpang dari normal atau indicates something that is outside of the norm. Bagaimana pengertian psikologi abnormal secara khusus ?, maka berikut ini merupakan definisi dari yang dikemukakan oleh beberapa sumber dan pakar.
Menurut Kartini Kartono (2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.
Singgih Dirgagunarsa (1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian, yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.
Berkenaan dengan definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2012) Psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola perilaku abnormal dan cara menolong orang-orang yang mengalaminya.
Definisi psikologi abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster OnLine (2009). Pada kamus online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : a branch of psychology concerned with mental and emotional  disorders (as neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”
Dalam kamus lengkap psikologi, psikopatologi merupakan cabang psikologi yang berkepentingan dengan penyelidikan penyakit mental, gangguan mental dan gejala-gejala abnormal lainya.
Berdasarkan lima pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa psikologi abnormal merupakan cabang dari psikologi yang secara khusus memahami dan menyelediki gejala-gejala abnormal, perilaku abnormal, kelainan dan hambatan,selain itu juga mengenai cara menolong seseorang yang mengalaminya.

Abnomal
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, abnormal merupakan perilaku yang menyimpang atau diluar dari perilaku normal. Dalam kamus lengkap psikologi, oleh J.P Chaplin; abnormal merup;akan berbeda atau sangat menyimpang dari kenormalan. Untuk lebih jelasnya terdapat beberapa tinjauan dalam memahami konsep abnormal :
1.      Konsep statistic (sttistik infrequency)
     Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng..Dalam distribusi-distribusi statistic, istilah abnormal menyatakan skor atau angka-angka yang atypis atau yang diluar kenormalan atau yang diluar jarak dari skor-skor yang diharapkan. J.P Chaplin (1961:2). Selain itu, Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva..  Dengan demikian seorang yang jenius sama-sama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur. .

2.      Unexpectedness
    Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) atau merasa sangat sedih ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

3.      Konsep sosio-kultur (Violation of norms)
Perilaku yang dilakukan di pertimbangkan berdasarkan konteks social dimana perilaku tersebut terjadi dan dilakukan. Setiap masyarakat pasti memiliki seperangkat norma yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku para anggotanya. Individu sebagai anggota masyarakat dituntut untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial dan susila di mana dia berada. Bila individu tingkah lakunya menyimpang dari norma-norma tersebut, maka dirinya dinyatakan sebagai individu yang tidak normal. Sehingga konteks ini merupakan suatu konsep yang sangat relative karena sangat bergantung dengan aturan yang berlaku didalam masyarat dan budaya pada saat itu. Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas.
4.      Personal Distress
Dalam konsep ini, perilaku seseorang dinyatakan dalam abnormal apabila perilaku tersebut mengganggu dirinya dan orang lain. Akan tetapi tidak semua gangguan, kesakitan dan penderitaan dapat dinyatakan abnormal. Konsep ini lebih cenderung bersifat subjektif dalam menentukan standar distress seseorang dan sulit diberlakukan secara umum memakai standar dari orang tertentu.
5.      Disability
Konsep ini mengacu kepada kesulitan individu untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dialaminya. Tetapi tidak dapat secara tepat juga seseorang yang mengalami abnormalitas dapat mengalami disability.
6.      Konsep patologis
Tingkah laku Seseorang yang dapat digolongkan kepada abnormal, apabila terdapat simtom-simtom klinis tertentu.
7.      Konsep Penyesuaian diri
Seseorang yang dinyatakan dapat melakukan penyesuaian diri dengan baik bila seseorang yang bersangkutan dapat menangani setiap masalah dihadapinya dengan berhasil. Akan tetapi apabila dalam menghadapi masalah yang dialami dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, sehingga masalah yang dihadapinya tidak dapat terselesaikan dengan baik, maka dikatakan bahwa penyesuaian dirinya tidak baik. Sehingga dalam hal ini orang tersebut tidak normal.

Maka, setelah kita melihat bahwa dalam mengkategorikan perilaku atau tingkah laku, seseorang menjadi abnormal sangatlah tidak mudah. Banyak hal-hal dan criteria-kriteria yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Dan tidak ada criteria yang secara sempurna dapat membedakan perilaku seseorang dikategorikan normal atau abnormal.

Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_Abnormal
http://www.scribd.com/doc/34873082/2/A-PENGERTIAN-PSIKOLOGI-ABNORMAL
http://ratunisaindriasari.blogspot.com/2011/06/pengertian-psikologi-abnormal.html
http://psychology.about.com/od/abnormalpsychology/f/abnormal-psychology.htm
Psikologi Abnormal, oleh :M.Fakhrurrozi,S.Psi
Kamus Lengkap Psikologi, J.P Chaplin