Psikologi Abnormal
Psikologi Abnormal
merupakan salah satu cabang dari psikologi yang berhubungan dengan psikopatologi
dan perilaku abnormal. Secara umum abnormal
itu sendiri merupakan perilaku yang menyimpang dari normal atau indicates something that is outside of the
norm. Bagaimana pengertian psikologi abnormal secara khusus ?, maka berikut
ini merupakan definisi dari yang dikemukakan oleh beberapa sumber dan pakar.
Menurut Kartini Kartono
(2000: 25), psikologi abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang
menyelidiki segala bentuk gangguan mental dan abnormalitas jiwa.
Singgih Dirgagunarsa
(1999: 140) mendefinisikan psikologi abnormal atau psikopatologi sebagai
lapangan psikologi yang berhubungan dengan kelainan atau hambatan kepribadian,
yang menyangkut proses dan isi kejiwaan.
Berkenaan dengan
definisi psikologi abnormal, pada Ensiklopedia Bebas Wikipedia (2012) Psikologi
abnormal adalah salah satu cabang psikologi yang berupaya untuk memahami pola
perilaku abnormal dan cara menolong orang-orang yang mengalaminya.
Definisi psikologi
abnormal juga dapat dijumpai di Merriem-Webster OnLine (2009). Pada kamus
online tersebut dinyatakan : “Abnornal psychology : a branch of psychology
concerned with mental and emotional disorders
(as neuroses, psychoses, and mental retardation) and with certain incompletely
understood normal phenomena (as dreams and hypnosis)”
Dalam kamus lengkap
psikologi, psikopatologi merupakan cabang psikologi yang berkepentingan dengan
penyelidikan penyakit mental, gangguan mental dan gejala-gejala abnormal
lainya.
Berdasarkan lima
pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa psikologi abnormal merupakan
cabang dari psikologi yang secara khusus memahami dan menyelediki gejala-gejala
abnormal, perilaku abnormal, kelainan dan hambatan,selain itu juga mengenai cara
menolong seseorang yang mengalaminya.
Abnomal
Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, abnormal merupakan perilaku yang menyimpang atau diluar
dari perilaku normal. Dalam kamus lengkap psikologi, oleh J.P Chaplin; abnormal
merup;akan berbeda atau sangat menyimpang dari kenormalan. Untuk lebih jelasnya
terdapat beberapa tinjauan dalam memahami konsep abnormal :
1.
Konsep statistic (sttistik infrequency)
Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua
variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau
kurva dengan bentuk lonceng..Dalam distribusi-distribusi statistic, istilah
abnormal menyatakan skor atau angka-angka yang atypis atau yang diluar
kenormalan atau yang diluar jarak dari skor-skor yang diharapkan. J.P Chaplin
(1961:2). Selain itu, Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal
bila menyimpang dari mayoritas. Kebanyakan orang
akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada
distribusi di kedua ujung kurva.. Dengan demikian seorang yang jenius sama-sama
abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi abnormal diantara
komunitas orang yang tidak jujur. .
2.
Unexpectedness
Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon
yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas
(misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) atau merasa
sangat sedih ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang
berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya,
padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan
adalah tidak diharapkan terjadi.
3.
Konsep sosio-kultur (Violation of norms)
Perilaku yang dilakukan
di pertimbangkan berdasarkan konteks social dimana perilaku tersebut terjadi
dan dilakukan. Setiap masyarakat pasti memiliki seperangkat
norma yang berfungsi sebagai pengatur tingkah laku para
anggotanya. Individu sebagai anggota
masyarakat dituntut untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma
sosial dan susila di mana dia berada. Bila individu tingkah lakunya
menyimpang dari norma-norma tersebut, maka dirinya dinyatakan
sebagai individu yang tidak normal. Sehingga konteks ini merupakan suatu konsep
yang sangat relative karena sangat bergantung dengan aturan yang berlaku
didalam masyarat dan budaya pada saat itu. Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas
definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk
mendefinisikan abnormalitas.
4.
Personal Distress
Dalam
konsep ini, perilaku seseorang dinyatakan dalam abnormal apabila perilaku
tersebut mengganggu dirinya dan orang lain. Akan tetapi tidak semua gangguan,
kesakitan dan penderitaan dapat dinyatakan abnormal. Konsep ini lebih cenderung
bersifat subjektif dalam menentukan standar distress seseorang dan sulit
diberlakukan secara umum memakai standar dari orang tertentu.
5.
Disability
Konsep ini
mengacu kepada kesulitan individu untuk mencapai tujuan karena abnormalitas
yang dialaminya. Tetapi tidak dapat secara tepat juga seseorang yang mengalami
abnormalitas dapat mengalami disability.
6.
Konsep patologis
Tingkah
laku Seseorang yang dapat digolongkan kepada abnormal, apabila terdapat
simtom-simtom klinis tertentu.
7.
Konsep Penyesuaian diri
Seseorang
yang dinyatakan dapat melakukan penyesuaian diri dengan baik bila seseorang
yang bersangkutan dapat menangani setiap masalah dihadapinya dengan berhasil. Akan
tetapi apabila dalam menghadapi masalah yang dialami dirinya menunjukkan
kecemasan, kesedihan, ketakutan, sehingga masalah yang dihadapinya tidak dapat
terselesaikan dengan baik, maka dikatakan bahwa penyesuaian dirinya tidak baik.
Sehingga dalam hal ini orang tersebut tidak normal.
Maka, setelah kita
melihat bahwa dalam mengkategorikan perilaku atau tingkah laku, seseorang
menjadi abnormal sangatlah tidak mudah. Banyak hal-hal dan criteria-kriteria
yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Dan tidak ada criteria yang secara
sempurna dapat membedakan perilaku seseorang dikategorikan normal atau
abnormal.
Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_Abnormal
http://www.scribd.com/doc/34873082/2/A-PENGERTIAN-PSIKOLOGI-ABNORMAL
http://ratunisaindriasari.blogspot.com/2011/06/pengertian-psikologi-abnormal.html
http://psychology.about.com/od/abnormalpsychology/f/abnormal-psychology.htm
Psikologi Abnormal, oleh :M.Fakhrurrozi,S.Psi
Kamus Lengkap Psikologi, J.P Chaplin